Sabtu, 02 April 2016

Warung kata

anggep aja semua yang di pajang adalah kata-kata

Di pikir-pikir nama blog gua agak kurang nyentrik. Eh nyentrik apa ya? Ouh bukan nyentrik. Kurang nyaman di lihat mata. Makanya gua gak mau membuat orang lain gak nyaman begitu pertama kali mampir ke blog gua. Belum apa-apa udah gak nyaman, kasian. PedeKate aja belum udah di tinggal. Tapi jangan terlalu nyaman ya, karena nanti susah ngelepasinnya. Seberapapun sayangnya kita pada anu tetep aja kita harus bisa ngelepasinnya. Karena semuanya milik Tuhan dan tak ada yang sempurna di dunia ini selain Tuhan dan pacar Andra & The backbone.

Warung kopi sastra, awalnya gitu. Setiap malem gua kepikiran. Betapapun disitu ada nama sastra. Kekasih jutaan umat manusia yang mengenal keindahan. Meski sampe sekarang gua gak tahu dia(sastra) itu cewe ato cowok. Ato jangan-jangan dia bisexual ato mungkin transgender ato bisa jadi gay ato lesbi? Ah entahlah. Aku mah apa atuh.

Seakan-akan ada huge responsibility ketika sang sastra ada di blog gua. Jadi malu sendiri ketika ingin promote ‘warung kopi sastra’. Padahal mah promote-promote aja ya. Tapi itu hanya terjadi di dalam pikiran. Lagi-lagi gua terlalu banyak mikir. Bahkan gua mikir; dunia ide manusia itu lebih chaos daripada realita. Pikiran ini gua alamin sendiri;

‘Ketika lagi nyetir mobil, rasanya kaya apa nabrak pohon ya?’
‘Kayanya asyik nih mobil di adu sama tronton.’
‘waah nabrak motor enak nih. Kebat-kebut serang-serong seenaknya. Braak, anjing enak banget. Biar tau diri’
‘Seru kali ya kalo mobilnya kecemplung sungai’
kaya di fast five. Ketika vin diesel nyelametin paul walker setelah mencuri mobil di kereta. Gua salut sama Slamet. Begitu berharganya dirinya. Bisa berguna bagi seluruh insan di muka bumi, bahkan artis Holywood sekalipun. Koq agak absurd gini yah. Haish.

Seandainya dunia ide itu di balik keadaannya dengan dunia realita. Gua yakin gak bakal ada orang yang sakit hati, mencuri, memperkosa, mencuri hati ato memperkosa perasaan. Gak bakal ada. Karena dunia akan jadi apa yang seperti kita inginkan. Tapi itu bakal gak seru. Karena dunia akan hancur oleh keinginan manusia. Makanya jangan turuti terlalu banyak keinginanmu, tapi penuhi apa kebutuhanmu. Itulah mengapa pula apa yang kita harapkan terlampau sering tidak terjadi semestinya. Karena disitu ada pikiran Tuhan yang mengatur jalannya tatanan kehidupan. Dan pikiran manusia adalah yang tukang hancurin dunia, kalo di pake gak bener.

Pada saat itu juga gua ingin bilang satu hal; fuck, hell ya!! Anjing. Terlalu banyak mikir gua! Dan gua pun mendengar bang Andrea hirata berbicara di Youtube; “berkarya itu gak perlu banyak mikir.” Ganz richtig bang Andre. Gua belum apa-apa udah mikir ini itu. Apa nih nama blog gua. Duuh bagus ga nih tulisannya. Duuh gimana nih design lay out nya. Duhh gimana biar tulisan gua di baca.

Duuh dan duuh bakal terus menghantui pikiran kita ketika kita berkarya dan tidak percaya diri. Makanya ketika kita ingin membuat sesuatu, yaaa setidaknya karya kecil-kecilan lah. Selain kita harus tulus membuatnya kita pun harus Percaya Diri. Biar kita gak mati kutu sebelum badai menyerang.

Kesimpulan gua mengganti nama ‘Warung Kopi Sastra’ jadi ‘Warung Kata’ yaitu karena gua gak nyaman aja sama sang Sastra. Terlalu berat. Yang ringan-ringan aja lah. Karena ‘Warung Kata’ ini memuat kata-kata gua dalam bentuk diary, cerpen, puisi, pemikiran dan temen temen kata yang lainya. Dan silahkan bagi siapapun mampir ke Warung Kata ini dengan sukarela. Karena gua hanya ingin untuk mencoba membuat karya kecil yang bisa di simpan dan di ingat oleh waktu dan memori pada setiap orang yang membacanya. Karena gua gak bakal mampu menampung semua kata dalam pikiran sendirian. Yaaah that’s all lah dari gua. Sebelum yang baca bete. Gua juga udah ngantuk. Tchus.


Jumat, 01 April 2016

Strategi Makan Bareng Keluarga

copy right from mbah google

Hal yang paling indah dalam Rumah adalah keluarga. Ketika lu ga bahagia tinggal di rumah berarti lu masih terlalu egois untuk beranggapan sepeti itu. Ya setidaknya itu menurut gua. Kalo kalian beda gua sih ga peduli.

Selasa, 29 Maret 2016

Mengeja makna



Sampai telapak menginjak durja
Gentar sapu mengepak nyawa
Tak pernah berhenti aku mengira
Disitu aku bisa menyambung nyawa
Meski harus berlomba dengan nyawa
Bahkan aku tak mengerti mengapa
Aku disebut kecoa?
Ya Tuhan tolong jelaskan padaku mengapa?

Mengapa derajatku sebegitu hinanya.

Berfikir



Sebagai manusia, sudah selayaknya bisa berfikir. Bahkan gua rasa itu harus. Karena manusia dianugerahi oleh Tuhan sebagai manusia yang paling sempurna sekaligus. Bagaimana tidak sempurna. Akal dan hawa nafsu diciptakan dalam satu tempat. Hanya manusia. Tak ada makhluk lain (Gua harap itu benar).

Di ibaratkan seperti air dan kayu bakar. Akal sebagai air dan nafsu sebagai kayu bakar. Keduanya akan sangat berguna bila dimanfaatkan dengan baik, pun tidak ada manfaatnya bila tak tau caranya. Air hanya digunakan untuk minum lalu hilang dahaga, begitu seterusnya. Kayu, dibangun untuk membangun rumah lalu selesai. Biasa saja. Namun ketika manusia berhasil dan bisa menghadirkan atau menemukan api, lalu dipertemukannya keduannya. Air, kayu bakar, api. Di dalam tungku perapian. Lalu air mendidih berembun menguap terus sampai kering lalu terbakar dan tiba pada sang Akhirnya.

Kayu dan Air diatas tungku perapian. Air mendidih dan terus menguap, lalu uap-uapnya menyatu dengan sang Penciptanya. Karena tujuan embun diciptakan hanya karena ingin kembali pada penciptanya. Dan kita(manusia) adalah embun yang menguap pada keterhilangan menuju Penciptanya.

Apa dan siapa si Api itu? Api itu adalah Kepercayaan. Kepercayaan kita akan suatu yang penuh energi. Tempat  semua enegi me re-charge. Tegas namun penuh kasih sayang. Diacuhkan namun tak pernah mengacuhkan. Kau kasih Dia uang palsu. Dia tetap menerima sampai pada saatnya kau sadar bagaimana caranya memberi tanpa hakekat memberi itu sendiri.
Api itu merupakan kepercayaan. Kepercayaan yang ada pada setiap insan di bumi ini. Kepercayaan yang ia simpan dalam hatinya. Tetapi tumbuh dengan suasana yang sangat berbeda. Sehingga hasil dan penggunaanya pun tidak sama.


Entah gua pun gak ngerti. Siklus macam apa ini. Kalo temen-temen bingung mahaminnya. Bahkan gua yang nulis pun bingung. Cuman pikiran liar ini kayanya sayang kalo gak di tulis. Rasa-rasanya akan ada aja gitu gunanya, entahlah. Well. Itulah sekilas gambaran ketika ide liar berhasil di tintakan. Eh bukan di tintakan deh, tapi di pensilkan. Ya gitulah pokonya