Kamis, 26 Januari 2017

KESEPIAN YANG SUDAH MENJADI DETAK DI JANTUNGNYA

copyright by google
Kesepian yang sudah menjadi detak di jantungnya, tak pernah lagi ia mampu menggubris. Semua kepingan kehidupan yang membuatnya meringis, telah ia peluk erat-erat, “inilah derita yang aku cinta”.

‘Sepi’ adalah musuh bagi semua kaum urban. Mereka tak pernah mau merasa sepi. Meski harus membohongi gengsinya. Tapi baginya ‘sepi’ adalah teman. Yang tak pernah beranjak sebelum ia bergegas menguat. “persetan kau sepi! Tak bisakah kau pergi dan enyah sejenak. Aku pun ingin jadi kaum urban.”

Suka lalu cinta. Meminta lalu di terima. Bahagia lantas tertawa. Sepi tak pernah pergi dari tempatnya. Bersemayam bersama jarum jam. Selalu tahu kapan majikan merasa hampa, yang bahkan tak pernah bahagia. setelah semuanya di dapat? Lantas apa selanjutnya? Bahagia dunia tak akan pernah ada ujungnya. Mungkin itu pesan berharga darinya. Selanjutnya akan sepi juga semuanya. Termasuk yang paling bingar sekalipun.

‘Semua yang kau cari ada pada dirimu.’ Yang tersisa dariku hanyalah sepi. Semua yang ku tahu dalam diriku adalah sepi. Jadi ternyata semua yang ku cari adalah sepi. Semua jerih payah keringat akan berujung pada kata sepi? Huuuft. Maka tak perlu lagi aku bingung apa yang harus aku lakukan. Sepi sudah jadi temanku selamanya.

Ditulis di Bandung pada bulan Juni 2016.


Sesaat ketika aku sadar bahwa yang ada dalam kepala dan seluruh isi hatiku adalah ‘aku sayang kamu’. Tapi nampaknya, kata itu tak perlu dijelaskan. Biar sepi yang menyampaikan. Entah alasannya apa. Hanya saja aku rasa, tak semua hal yang disebut perasaan bisa di definisikan.

Selasa, 24 Januari 2017

KENAPA KITA HARUS KULIAH?



Meskipun semua stick note ini hanya berakhir menjadi sebuah mimpi. Setidaknya gua pernah berusaha sekeras mungkin. Dan bersyukur, sekarang bertengger pada Sastra Indonesia UNS.


Sebagai seorang anak yang tumbuh di tengah-tengah keluarga yang begitu menghargai pendidikan. Pokoknya selagi mampu, harus kuliah. Entah apapun kerjanya nanti (tapi bukan tanpa rencana juga). Itu yang membuat gua selalu terpacu ingin kuliah. Tinggal di kampung dengan arus ekonomi yang lamban, selalu membuat warga-warga kampung berpikir berkali-kali untuk mengambil pendidikan di Perguruan Tinggi. Terlebih PT nya jauh dari kampung. Tapi tidak dikeluarga gua. Karena kuliah dianggap mampu memperluas pergaulan, pengetahuan dan koneksi (meski memang gak selalu begitu adanya).

Tapi bagi gua pribadi. Gua adalah orang yang bisa dibilang suka membaca dan termasuk suka menulis. Sejak SMA, Alhamdulillah gua bisa mengirim tulisan-tulisan gua ke majalah sekolah, ya syukur-syukur ketrima. Lalu semakin kesini gua semakin terpincut dengan dunia tulis-menulis setelah lulus dari SMA. Dengan membaca karya-karya Darwis Tere-Liye, Dee Lestari, Andrea Hirata, Raditya dika, Pidi Baiq, Alitt Susanto dan temen blogger. Membuat gua semakin berani untuk bermimpi menciptakan suatu karya dalam dunia tulis menulis. Dan bukan hanya sekedar bermimpi, mereka (penulis inspirator gua) mampu membuat gua untuk bergerak menuangkan dan mengumpulkan ide untuk membuat suatu tulisan. Yaa meski berawal dari diary sekalipun. Karena menurut gua diary adalah proses latihan seorang penulis untuk terbiasa menuangkan idenya, menjadi lebih gampang pada kertas atau media lainya. Karena siapapun pasti yakin bahwa ide memang sulit ditebak, sulit dituangkan atau bisa juga disebut susah untuk dieksekusi. Maka dari itu, kreatif itu harus dilatih. Dan dalam latihan penuangan kekreatifan penulisan, salah satunya dengan menulis diary. Bener juga tuh. Hal yang besar berawal dari hal yang kecil tetapi dengan cinta yang besar.

Naah, oleh karena itu. Gua begitu sangat-sangat yakin dengan kuliah, gua mampu membuka sedikit demi sedikit gerbang ide, untuk lalu dijadikan sebagai suatu karya. Karya hasil gua sendiri (meski memang berkarya ga harus kuliah). Tapi setidaknya saat ini gua sangat yakin. Kuliah sangat-sangat gua butuhkan. Untuk proses pewujudan karya gua. Yap, satu hal yang gua butuhkan dari kuliah adalah atmosfer kerja keras. Meski memang pada akhirnya atmosfer kerja keras harus kita sendiri yang bangun. Tapi dengan berada di sekeliling orang-orang yang berkecimpung pada ilmu pengetahuan membuat gua semakin terpacu untuk melakukan hal yang sama, yang sesuai passion gua tentunya.

Karena memang gua masih terlalu lemah untuk mencipta atmosfer kerja keras sendirian. Gua masih sangat-sangat lemah untuk hal itu. Begitupula gua tinggal di rumah, tempat yang bagi gua terlalu nyaman untuk mencipta atmosfer itu. Meski memang kenyamanan selalu gua butuhkan untuk atau selama proses penciptaan karya. Tapi di rumah, gua terlalu manja. Maka gua harus keluar, merasakan atmosfer lain yang lebih keras, yang mampu mampu membuat gua jadi lebih berkembang. Meskipun pada akhirnya semua kembali pada diri kita sendiri.
Itu lah salah satu alasan, kenapa gua pengen banget kuliah. Sederhana aja sebenernya.


Ditulis pada 8 April 2016.
Ketika gua sedang berjuang bersama ratusan ribu orang mengejar PTN favoritnya melalui SBMPTN 2016.


Lalu untuk yang tahun ini sedang mengejar PTN, PTS, AKMIL, AKPOL, STAN atau perguruan tinggi lainya. Entah itu yang lulusan 2015, 2016, dan yang paling seger 2017. Semangat lah ya. Bulatkan niat dari sekarang untuk mengejar impian temen-temen, jangan setengah-setengah kalo punya niat. Jangan sampe kandas di tengah jalan. karena apapun usaha yang sudah pernah kita lakukan, pasti akan ada hasilnya, pasti. Meski seringkali gak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Beruasaha aja dulu, hasil mah dipikir belakangan. Dan sebisa mungkin temukan alasan temen-temen untuk kuliah. Agar alam bawah sadar temen-temen bisa mengiyakan dan mendukung temen-temen dalam berusaha lebih keras.

Kamis, 12 Januari 2017

Dunia ide, antara aku dan waluyo.


Dunia ide selalu indah dalam kepala, menyegarkan. Namun selalu ada 1001 masalah ketika masuk dalam tahap eksekusi. Ya salah satu caranya adalah mencatatnya agar ide itu tetap menyegarkan. Meski ini bukan suatu motivasi atau saran atau kritik atau berbagai macam rasa kritik yang lainya. Ini cuman coretan di pagi hari sang pemalas yang mencoba untuk sok rajin.
Bangun jam 08:13, itu juga kalo di bangunkan. Kalo tidak? Ya paling agak siangan dikit, jam 11:45. Wow! Ato mungkin ada yang pernah tidur 1x24 jam? Ato lebih? Mungkin rekor muri harus ngasih medali buat dia ya. Ya ya ya, begitulah liburan sang pemalas.
Bangun tidur, mandi, bikin kopi, sarapan, trus............sssssssstttttt.. Ngrokok. Jangan bilang siapa-siapa, soalnya ngrokonya sembunyi-sembunyi. Di depan toko yang kebetulan yang punyanya lagi ke pasar, dan secara tidak sengaja juga yang punya toko adalah nenekku sendiri, yang sudah pasti merupakan ibu dari ibuku.
“Ya trus ibu siapa lagi?”
“loh kan siapa tau ibu dari ibu tetangga kan?”
“iya iya.”
“iiiihhh, gimana sih lu, itu nenek kandung gua. Banyak tanya deh lu kaya wartabok.”
“laaah, wartabok. Wartawan kali ah.”
“wartawan nanya nya berkualitas, kalo lu nanya-nanya nya ga berbobot, bawaannya pengen nabok.”
“oke oke bos.”
“waluyo waluyo.”
“lanjut lagi bos ceritanya!”
“iya ini mau lanjut, lunya jangan banyak omong. Sssttt diem!”

Yaa begitulah percakapan ku dengan waluyo, yang suka rusuh kalo aku lagi nikmatin kopi.
“uyooo..!!!”
“apa bos?”
“ayo ah kita maen gitar lagi!”
“berangkat bos!”
“ngapain berangkat? Disini aja, toko si mbah gada yang nungguin ini.”
“ouh iya lupa.”


Selasa, 28 Juni 2016

Tidak Ada SBMPTN Hari Ini


Setelah semuanya selesai dalam 2 sesi, 105 menit, 60 menit. Semuanya berjalan seperti biasa. Seperti seharusnya. Gua baru menyadari, betapa banyak hal yang teralihkan karena ujian keparat ini. Kenapa gua sebut keparat? Karena tidak sedikit orang, terutama fresh graduate SMA yang begitu menuhankan SBMPTN atau masuk PTN. Seperti tidak ada hal yang lebih indah lagi selain PTN. Seperti tidak ada hal yang lebih cerah lagi selain PTN. Sebenernya gua juga muak, tapi apa boleh buat. Sebagai orang susah, memang semuanya harus di tekuni.

Karena tidak lulus SBMPTN, maka gua jelas gak bisa masuk UNPAD atau sama seperti yang lain. Tidak bisa masuk PTN yang di inginkan. Mahalnya biaya kuliah PTS atau faktor lain, yang membuat banyak orang buta, kalo kesuksesan di raih hanya di PTN. Mungkin cuman gua kali ya yang begitu. Fakta sih, gua banget. Padahal ribuan kali gua menyadari kalo PTN bukanlah satu-satunya jalan buat gua menuju kesuksesan. Benar sekali ini. Tapi apa daya, bayang-bayang lulus PTN selalu menghadang. Mungkin orang tua gua gak menyadari apa yang gua rasakan. Mereka selalu bilang kalo gua harus masuk PTN dan gua selalu mencibir, cape hati mau ngomong. Bapa gua pun cuma ketawa nyi-nyir.

Tapi nampaknya hanya bayang-bayang yang gua buat sendiri yang membuat gua begitu tertekan. Ya, yang membuat gua begitu terbebani akan lulus tidaknya SBMPTN. Padahal seharusnya gua bisa menjalaninya dengan santai. Ngapain harus terbebani. Kita dilahirkan saja dengan orang tua yang bersenang-senang, ngapain kita harus merasa terbebani hidup setelahnya.

Setelah gua bisa menyadari kalo bernafas itu nikmat, gua bernafas sepuas-puasnya. Selama kurang lebih 4 bulan gua les. Bolak-balik indramayu Cirebon. Perjalanan 2 jam dan belajar cuma 90menit, itu pun kalo gua gak telat. Semua terasa membosankan, sumpah. Tapi sekali lagi apa boleh buat. Semua ini belum ada apa-apanya. Lalu apa gua bener-bener belajar? Gua merasa gua belajar, gua pikir gua udah melakukan semua yang gua bisa. Tapi hasil belajar sih gitu-gitu aja. Ahk, gua pun gak ambil pusing. Gak sering juga gua ngerasa males, rasa males gua lebih besar dari pada rajin. Tapi semua tetap berjalan aman selagi komitmen masih terjaga sehat. Gak sering juga gua membodoh-bodohi diri. Betapa tidak? Terutama matematika. Entah, gua gak ngerti sama matematika. Ngerti sih ngerti, tapi pas nyobain kerjain soal sendiri, kaya anjing susahnya. Gak bisa-bisa juga. Mungkin gua gak nemuin guru yang tepat. Ahh udahlah, mentok otak gua bahas Matematika. Padahal kalo denger Sudjiwo Tedjo berbicara soal Matematika, bener-bener jatuh hati gua sama Matematika. Tapi cinta gua kandas di hadapan pytagoras dan logaritma . Gua merasa begitu bodoh di hadapan matematika. Matematika diposisi matematika dasar sebagai mata pelajaran di lingkup akademik. Di luar akademik, gua begitu mencintai matematika.

Gua merasa kepala gua mau pecah, setiap hari dijejali materi-materi soal SBMPTN. Gua juga sadar, gak cuman gua yang begini. Tapi kayanya faktor-faktor lain yang membuat kepala gua mau pecah. SBMPTN soal mudah, tidak lulusnya SBMPTN yang terlalu membuat gua susah tekun. "Gak perlu pusing-pusing kar. Usaha trus doa, cukup. Seterusnya serahkan pada Tuhan." I’ve made that perception as long as I breath. Tanpa prinsip itu, mungkin sekarang gua udah mati konyol, diselimuti kepecundangan hidup. Tapi sekarang gua masih tetep idup. Dan menyadari, bernafas itu nikmat.


Setelah satu tahun dibayang-bayang keinginan untuk kuliah. Dan gua sadar ga cuman gua yang begini. Makanya gua lebih suka berada pada orang-orang yang susah. Mereka patah hati dan mendendam diri, lalu bertindak berbahaya, mengancam kalo kesusahan hidup bukanlah penderitaan, tetapi kita harus berjuang terhadapnya. Gua gak kuat berada pada orang-orang yang bahagia, hati gua gak kuat. Mereka bahagaia, bersenang-senang, tak ada gundah, tapi hanya oase. Atau mungkin mereka memang pantas mendapatkan semua itu, karena mereka pun berjuang. Tapi tak sedikit mereka menipu diri akan bahagia.