Senin, 15 Juli 2019

Melihat Kapitalisme Bekerja



Warungkata - Datanglah ke Jakarta. Kota tersibuk se-Indonesia dan salah satu kota dengan perputaran arus modal tertinggi se-Asia Tenggara.

Jangan pernah membenci kapitalisme. Seperti kata Foucalt "Mengubah relasi lingkungan sosial merupakan perjuangan melawan sakit mental".

Dan membenci kapitalisme, adalah perjuangan melawan sakit mental. Lihat pakaian yang kamu kenakan? Makanan yang kamu makan? Alas kaki yang kamu injakan? Kendaraan yang kamu polusikan? Hingga kemaluan yang kamu amankan. Semua berdarah kapitalisme.

Tumbuh dewasa, terserap daya kapitalisme. Kita akan hidup pada dua sisi pedang yang sama tajam: Diperdayakan atau memberdayakan. Karena memberdayakan juga artinya memperdayakan, iya kan?

Menginjak remaja, bertambah tanggungan di usia muda, hingga menuju umur senja. Keharusan bertahan hidup adalah mata rantai evolusi manusia. Mulai dari tradisi berburu dan meramu. Kjokenmoddinger. Bercocok tanam. Hingga tradisi kedai kopi dan tahu bulat merebak ke seantero jagat. Manusia tidak bisa lepas dari kodrat: bekerja.

Bukan bermaksud konservatif dan meneriakan slogan sosialis primitif. Hanya mencoba menggambarkan rasanya menikmati kehidupan kota (Jakarta) yang masif. Sambil menggeser-geser gawai pintar dengan latar pemandangan kumuh bersanding dengan bangunan termutakhir abad ini. Sangat kontradiktif.

Dalam rangkulan mesra industrialisasi, aku meramal, selesai wisuda, aku akan (atau mungkin harus) melamar kerja kemari dan kesana.

Ramalan atas kegugupanku dalam menghadapi fresh graduate sindrom telah mengantarku pada Jakarta. Ketika ada kesempatan Kuliah Magang Mahasiswa (KMM) maka aku dengan mantap memilih Jakarta sebagai destinasi magang. Tujuannya satu: mengenal kejamnya dunia kerja. Yah, mungkin aja.

Jadi, jika saja kehidupan ini menjebakku untuk mengharuskan kerja di Jakarta. Persiapanku tidak dimulai dari angka nol. Dan misi itu tercapai. Hasilnya: aku sangat gugup. Terutama dalam perjalanan menuju kantor.

Kebiadaban yang Paling Biadab

Di Kota yang masuk predikat 4 kota dengan pencemaran udara terburuk di dunia setelah Dubai, New Delhi, dan Santiago, bisa kan kamu bayangkan bagaimana panasnya udara, bersatu padu dengan panasnya kepala. Huft. Gunung Antartika bisa saja meleleh kalo dibawa jin ifrit ke sini.

Di dalam ruangan dingin banget, full ac. Di luar ruangan panas banget, full polusi. Kaya keluar kulkas terus masuk microwave.

Marx pernah cerita kalo kapitalisme akan membawa manusia pada keterasingan. Yang dimaksud Marx dengan keterasingan adalah ketika orang itu bekerja, dia bekerja bukan untuk sebenar-benarnya bekerja. Tapi hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang lain, namun semua itu harus terpenuhi dengan bekerja. Ya semi terpaksa lah mungkin maksud Marx. Demi penghidupan.

Hal ini saya lihat di Jakarta -sangat jelas terlihat. Mungkin tidak semua orang mencintai pekerjaannya. Tapi kebiasaan -yang kemudian dibaca kebiadaban- kehidupan Jabodetabek (secara lebih luas) yang sering memusingkan -tersirat di jalanan- harus mereka siasati menjadi kebiasaan agar kebidupan tetap berlanjut. Demi mencari penghidupan.

Siap menjadi manusia pencari kerja, wahai calon sarjana?

Minggu, 07 Juli 2019

Surat yang Tidak Perlu Diantar*

*sebuah cerpen


"Dan aku sekarang telah pergi jauh. Meninggalkanmu, meninggalkan suratku."

Seharusnya memang surat ini tidak pernah aku antar. Aku terlampau lugu dalam menyatakan cinta, dan terlampau cupu untuk menyampaikan padamu, dan terlampau kaku bila kutuliskan surat ini untukmu, dan ini akan jadi lucu, lucu yang memalukanku.

Tapi, surat ini terlanjur kukirim. Entah hal apa yang membuat aku tergerak. Kau harusnya paham kapan kau merasa nirlogika di saat-saat seperti ini. Tertulis aku mengagumi dan mencoba mencintaimu. Kau membacanya sambil tersenyum-senyum. Kau bilang aku becanda menulisnya. Kujawab aku serius. Kamu jawab tak percaya, kerasukan sinetron apa kamu, begitu katamu. Aku diam. Diam-diam menahan senyum, sambil menyesal telah menjadi orang yang mudah bercanda. 

Lalu aku kembali menulis. Kali ini aku tidak bisa menahan laju pena dan jantungku berdegup saling cepat. Kamu seharusnya tau apa rasanya, Nona. Rasanya jantung ini ingin melompat-lompat dan pena ini hanya ingin terus menulis. Menulis sesuatu yang tidak dimiliki bahasa. Menulis sesuatu yang tidak dimengerti logika.

Tapi kali ini aku lebih memilih untuk menyimpannya. Aku lebih suka mendengar degup jantung yang tak karuan dan kunikmati setiap malam sendirian di kamar. Surat itu semacam terapi denyut detak. Ah betapa. (Kau tidak akan mengerti rasanya bila belum jatuh cinta. Jangan ngenyek dan sebut aku menye-menye. Biarkan cinta bekerja).

Kamu membaca suratku yang kedua. Dengan tidak sengaja. Kau diam-diam membuka buku catatanku. Tidak sopan! Kau membacanya dengan penuh rasa penasaran dan jantung yang tidak karu-karuan. Kau tersenyum, manis sekali, rasanya hatiku cair, hangat, dan mendesir, dan menenteramkan sekaligus membuat jantung tidak karu-karuan. Jangan berpikir kotor loh! Ini semacam desiran hati yang begitu khas dan hangat. Kamu harusnya pernah merasakan ini, Nona, aku yakin.

Aku agaknya menyesal menulis surat itu di sembarang tempat, meski itu masih di catatanku. Menyesal karena kau bisa menjangkaunya. Entah, mengapa aku merasa menyesal. Nirlogika. Karena sekali kau tau, aku merasa berdosa bila apa yang aku tulis tidak sesuai dengan apa yang akan aku lakukan, semacam perasaan khawatir akan ketidaktahuan. Aku merasa aku lebih jujur pada catatanku, ketimbang kepada ucapanku sendiri. Harusnya kalian paham apa yang kumaksud. 

Surat itu akhirnya kau baca. Kau tersenyum, lebih manis dari sebelumnya. Aku menjadi lebih canggung dari sebelumnya, di depanmu. Perasan mak deg di jantung itu sangat terasa. Meskipun pada akhirnya kita menemukan topik pembicaraan. Kau berbicara soal film. Aku berbicara soal keaktoran artis dalam film. Mengapa bisa secair ini? mengapa bisa semengalir ini. Brengsek, aku hampir tidak bisa tidur semalaman mengingat momen-momen itu. Dasar melankolis.

Kau mahasiswa yang cukup aktif dalam beberapa kegiatan kampus. Bahkan terlampau jauh lebih sibuk ketimbang diriku yang setelah kelar kuliah pengennya leha-leha. Kegiatan bakti sosial, perayaan hari pahlawan, aksi solidaritas, dan banyak semacamnya. Kau begitu lincah di sana. Dan satu hal yang ku suka dari mu, kejujuran. Wajah-wajah cahaya dalam potret digital terpajang di wajah maya mu. Dan kau sempat menulis beberapa tulisan di blog mu. Sering kubacai, dan aku menyukainya, sangat otentik. Sekalipun teknik menulismu sederhana dan bilang bahwa itu hanyalah tulisan formalitas, tapi kesederhanaan itu membawa ku pada sebuah rasa kagum: Kau begitu tulus Nona. Entah pada apa ketulusanmu. Hanya saja, kata “tulus” itu muncul begitu saja.

Di suatu malam, kita bertemu. Di hadapan panggung teater kita berbicara banyak hal. Tentang kesibukan mu, tentang ke sok sibukanku. Kegiatannya di DPM dan kesibukan ku di teater. Aku pemerhati kondisi sosial, sesekali, sering kubukai kanal berita online dan media-media alternatif semacam Mojok.co dan Geo Times. Maksudnya, agar aku terlihat pandai mencari topik pembicaraan –agar aku bisa menyeimbangi pembicaraannya, makanya aku sok rajin membaca. Aku mengkritisi keaktifannya di sana. Dan sedikit menyinyir. Kamu tersindir. Aku suka melihat wajahmu saat merasa tersindir.

Kau pandai membaca puisi. Kedalaman suara dan batinmu membuat banyak orang tersentuh. Aku suka kedalaman suaramu.

Kau pandai membaca puisi. Aku (merasa) pandai menulis puisi. Kita sama-sama pandai dalam hal puisi. Kau juga tahu apa buku dan pengarang yang aku suka. Tapi aku tidak pernah tahu bacaan yang kamu suka dan hanya menebak-nebak kau menyukai Murakami, dan ternyata benar. Tapi, ketepatan tebakan dan kesamaan kepandaain tidak bisa membuat kita bertahan. Aku. Aku tidak bisa bertahan. Aku ingin menemu kenali ruang sepi diriku. Tanpa cerita mu, tanpa tawa, senyum. Tanpa mu. Aku merasa terasing. Dan keterasingan itu tidak bisa aku terjemahkan. Aku ingin pergi.

Aku mengecap kesedihan yang begitu mendalam. Seakan aku merasa ada sesuatu yang hilang dariku. Entah. Rasa itu serupa ruangan ber-AC tanpa perabotan. Seperti ruang steril tanpa suara tanpa gangguan. Hanya dinding, lantai putih, dengung AC, dan cahaya lampu. Semuanya putih berpendaran. Penyesalan itu menuntun ku pada hari yang tak tentu. Emosi ku mudah meluap. Bicaraku mudah meninggi. Keberadaanku di keramaian sering membuat kepalaku mudah pening. 

Nona, pagi ini aku mendatangi panggung teater tempat kita bercengkrama dulu. Bahkan kita pernah bertengkar hebat di sini. Kamu menangis. Dan aku baru mengerti, jika hati wanita se-emosional itu, atau entah aku menyebutnya apa, kau menangis pada sesuatu yang aku pikir aku tidak akan menangis bila di posisimu. 

Aku mencoba mengingatnya dengan baik. Aku masih mengingatnya. Kau tersenyum, setelah marah hebat, karena alasan yang kadang tak mudah kumengerti. Aku tak sengaja menjawab pertanyaanmu dengan nada setengah tinggi, tentu saja itu bukan karena aku marah, itu karena dialek ku yang begitu. Kamu tetap diam. Ngambek. Diam. Cemberut. Dasar ngambekan.

Saat itu kita dalam perjalanan menuju stasiun, kau mengantarku. Di stasiun, aku beri kamu hadiah. Mainan burung gantung yang bisa berputar seakan terbang, dan mengeluarkan bunyi suara burung, elang. Dan kutulis di kepala burung itu “Selamat mengudara Nuha”. Kau penyiar yang ramah.

Sesaat setelah kuberi barang itu (aku tak ingin menyebutnya kado), kamu tersenyum, mukamu memerah, dasar, kaya bocah, aku suka melihat wajahmu lamat-lamat saat-saat seperti ini. Duh.

Dan aku sekarang telah pergi jauh. Meninggalkanmu, meninggalkan suratku. Entah seperti apa suratku saat ini. masih kah bisa kau baca dengan utuh. Atau telah kusut terkena lelehan air matamu. Nona, betapa senyummu tetap manis. Ketulusanmu tetap harmonis. Betatapun sungguh aku merasa tak adil meninggalkanmu dengan cara begini. Betatapun juga aku tak ingin membuatmu menangis. Tapi aku harus apa. Aku harus pergi, Nona. Cita-cita ku yang utopis tidak bisa membawamu untuk tetap denganku. Bohong. Itu semua bohong, kenapa, kenapa, begitu suaramu, yang kudengar di ujung telepon.

Betapa aku ingin untuk tetap mencintaimu Nona, tapi aku tak bisa. Betapa aku ingin tetap dicintaimu Nona, tapi aku tak bisa. Betapa aku hanya ingin menyesal, mengapa kita harus pada kisah yang seperti ini. betapa dan betapa. Satu hal yang mungkin harus kau tahu. Aku tidak pernah menyesal pernah menyayangimu. Aku tidak pernah menyesal kau pernah ada. sekalipun aku telah dan akan terus melangkah jauh. Kau tetaplah Nona. Kau tetap hidup di waktu dan buku-buku catatanku. Atas segala peristiwa dan waktu. Terima kasih Nona. Semoga kau bisa cepat "semoga".



Rabu, 03 Juli 2019

Melihat Dunia yang Lebih Luas


WarungKata - Sedikit membaca, dan merasa banyak tahu: adalah penyakit yang harus segera disudahi. Bila tidak segera disudahi, kita akan berpikir -apriori- kalau kita tenggelam dalam arus dunia, tapi sesungguhnya kita hanya terjebak oleh pikiran kita sendiri.

Benar kata Cak Nun. Musuh kita adalah kesempitan dan kedangkalan berpikir.

Beranjaklah dari eksklusifitas menuju inklusifitas.

Empiris speak louder than teoritis. Kesesuaian teori dengan lapangan memang selalu mengalami gesekan yang nyata.

Bila kita tidak bisa beradaptasi dengan cepat. Kita tahu apa akibatnya. Berilah diri kita waktu untuk "beraklimatisasi" dengan lingkungan.

Terus belajar. Belajar terus.

Sekali waktu kita memang harus mengapresiasi diri atas proses yang telah kita raih. Tapi jangan berbangga diri di luar kontrol. Atau. Atau kita akan terjebak oleh ilusi kita sendiri.

Teruslah bertumbuh. Jangan batasi diri kita.

Sampai bertemu di pelabuhan

Jumat, 01 Februari 2019

Di Manakah Kaum Islam Radikal Berpihak di Pilpres 2019?

Copy right from Google

Tulisan ini sebagai salah satu bentuk respon atas Debat Capres & Cawapres 2019 jilid 1 yang diselenggarakan pada tanggal 17 Januari 2019 silam. Tulisan ini hanya ingin sedikit menyoroti isu terorisme yang menjadi salah satu tema debat capres & cawapres 2019.

Ketika pertanyaan tentang terorisme dilontarkan kepada paslon 1 dan 2, masing-masing paslon menjawab dengan gayanya masing-masing. Paslon 2 menjawab dengan kata kunci ekonomi, (apapun isunya, isu ekonomi adalah pemicu pokok permasalahan). Sedangkan paslon 1 yang terlihat kurang kompak dalam porsi berbicara antara Jokowi dan Ma’ruf Amin, ketika topik tentang terorisme, akhirnya Pa Kiai angkat bicara, huft akhirnya.

Pertanyaan pertama diberikan kepada paslon 1 Jokowi-Ma’ruf.

Pemberantasan terhadap terorisme seringkali berbenturan dengan isu HAM. Bagaimana strategi anda agar pemberantasan terorisme bisa benar-benar dijalankan tanpa ada persepsi dari masyarakat tentang terjadinya pelanggaran HAM?

Dengan gayanya yang khas, Pak Kiai Ma’ruf menjawab dengan tenang dan santai. Pak Kiai menjawab bahwa terorisme adalah tindak kejahatan, MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa terorisme bukanlah jihad, terorisme adalah tindakan perusakan, oleh karena itu haram dilakukan. Pelakunya harus dihukum dengan keras dan berat. Langkah konkretnya adalah mensinergikan pencegahan dan penindakan dengan menggunakan pendekatan yang humanis. Menggandeng ormas-ormas –khususnya keagamaan– untuk melakukan pencegahan terorisme dengan cara deradikalisasi.

Lalu Prabowo menanggapi Pak Kiai bahwa terorisme sering kali dikirim dari luar, pelakunya menyamar seolah-olah dia itu orang Islam. Dia berpendapat bahwa teroris ini ada kemungkinan di dukung dan bekerja oleh dan untuk orang asing. Dia juga menolak stigmatisasi teroris selalu kepada orang Islam.

Pertanyaan kedua untuk paslon 02 Prabowo-Sandi.

Radikalisme dan terorisme sudah menjadi ancaman, oleh karena itu dibutuhkan langkah pencegahan dan deradikalisasi. Hal ini bukan hanya bagi individu yang sudah terpapar paham terorisme dan keluarganya. Tetapi juga lingkungan yang menjadi ladang subur berkembangnya paham ini. Apa strategi anda untuk menjalankan pencegahan dan deradikalisasi yang efektif?

Pak Prabowo menjawab bahwa banyak teroris yang merupakan penyusupan dari luar, teroris dari dalam negeri muncul sebagai akibat dari rasa ketidakadilan, rasa keputusasaan, karena posisi itulah mereka bisa terkena paham radikal. Prabowo-Sandi lebih menekankan kepada penguatan investasi besar-besaran di bidang pendidikan, kesehatan, peningkatan ekonomi (khususnya rakyat paling bawah), penguatan pesantren-pesantren, madrasah-madrasah, dan berusaha menghilangkan suasana hidup putus asa karena ketidakmampuan ekonomi, dalam mencegah paham terorisme. Lalu Sandi menambahkan, mereka akan melakukan program-program kontra radikalisasi pada masyarakat luas, dan menganalisis pemetaan masyarakat miskin –yang rentang terkena ajaran terorisme– agar tidak terkena paham radikal.

Lalu Pak Kiai menanggapi argumen paslon 2. Pak Kiai sangat menekankan kepada persepsi “apa yang membuat ia menjadi radikal?” Bila penyebabnya adalah faktor paham keagamaanya yang menyimpang, kita luruskan. Bila penyebabnya faktor ekonomi, kita berikan lapangan pekerjaan.

Isu terorisme tidak hanya menjadi isu nasional, ini sudah menjadi isu trans-nasional. Masalah terorisme bukanlah masalah agama, melainkan masalah politik kekuasaan yang mengatasnamakan isu agama. Oleh karena itu, masalah agama selalu menjadi kendaraan yang di mobilisasi oleh kaum radikal untuk memperoleh pembenaran atas pergerakan poilitiknya. Dan agama yang selalu jadi tunggangan itu adalah Islam.

Pemikiran terorisme dipicu oleh pemahaman radikal. Pemahaman radikal berawal dari ajaran radikal yang menolak ukhuwah (perdamaian), hobinya mengkafir-kafirkan orang yang berbeda pemahaman, menolak intelektualitas, cenderung menolak pendapat berbeda pemahaman, meneriakan Islam dengan lantang namun memecah belah ukhuwah islamiyah. Semua ciri-ciri ini terdapat pada aliran Islam bernama Salafi Wahabi dan berbagai macam bentukannya.

Salafi Wahabi ini tidak hanya jadi masalah di Indonesia, aliran ini di musuhi oleh banyak ulama di berbagai belahan dunia. Beberapa konflik yang berhasil dikompori oleh mereka di Indonesia –bahkan menjadi isu nasional– adalah konflik sunni-syiah (puncaknya pada tahun 2013, dimana MUI pusat mengeluarkan fatwa bahwa Syiah sesat, setelah diselidiki ternyata MUI ditunggangi banyak orang wahabi), lalu sampai pada konflik yang terbaru dan masih bergaung sampai sekarang: khilafah (negara islam).

Salafi Wahabi ini memiliki pengkaderan dan pergerakan yang ajip. Untuk memperoleh suara dari masyarakat mereka mengaku sebagai kaum Ahlussunah wal jamaah (Aswaja) dan menduduki (pengurus DKM) masjid-masjid –masjid warga NU sekalipun. Karena suara mereka telah lama ditolak oleh masyarakat, akhirnya mereka merubah arah gerakan.

Ciri-ciri paling mudah untuk mendiagnosis kaum wahabi sangatlah mudah. Mereka sangat buta dengan kefanatismean golongannya, mengutamakan golongannya dan mengkafirkan golongan lain (termasuk agama non-Islam), menyangkut pautkan isu agama dengan permasalahan sosial dan politik –seperti pandangan yang seakan-akan mengiyakan bahwa hanya orang Islam lah yang paling benar dan yang paling layak.

Jadi, perlu teman-teman ketahui langkah-langkah wahabi dalam berdakwah. Karena mereka sekilas tampak sama dengan kaum Ahlussunah. Dengan tulisan yang sangat terbatas ini, semoga teman-teman bisa memahami bagaimana caranya menyerap ilmu Islam dan memahaminya secara utuh, dan jangan dulu mengkafir-kafirkan golongan lain yang berbeda pendapat dengan golongan yang anda pahami saat ini. Maqam kafir mengkafirkan hanya diduduki oleh Allah SWT.

Lalu di manakah Kaum Islam Radikal ini Berpihak?

Di Indonesia Islam radikal memang beragam bentuknya. Saya menduga kuat, kaum Islam radikal tidak tinggal diam setelah Jokowi berhasil membubarkan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). HTI hanyalah salah satu Ormas radikal yang berhasil ditumpas. Penghuninya masih ada dan terus hidup. Kaum Islam radikal ini tidak tinggal diam menerima kenyataan pergerakannya dilumpuhkan oleh pemerintah.

Dalam memahami isu terorisme. Jokowi & Ma’ruf Amin memiliki pemahaman yang lebih mumpuni dibanding Prabowo-Sandi. Dalam pemerintahan Jokowi-JK, HTI berhasil di hapus dari Ormas resmi Indonesia. Karena HTI adalah salah satu tempat pengkaderan kaum Islam radikal. Keberadaannya mengancam persatuan bangsa dan keutuhan NKRI. Ini bukan ucapan retoris, silakan anda pelajari sendiri.

Melihat tanggapan Prabowo-Sandi tentang terorisme, saya menaruh premis kuat kaum Islam radikal berada pada pihak Prabowo-Sandi. Karena Prabowo-Sandi belum benar-benar memahami di mana dan dari mana paham terorisme ini tumbuh dan berkembang biak. Pokok utama permasalahan terorisme bukanlah pada masalah ekonomi. Tetapi pada pemahaman Islam yang menyimpang.

Kaum Islam radikal berada pada pihak Prabowo-Sandi untuk mencoba bangkit dari keterpurukan pada masa pemerintahan Jokowi-JK.

Di akhir paragraf ini, saya bukan bermaksud untuk membesarkan nama Jokowi-Ma’ruf Amin. Bukan timses, bukan juga buzzer. Saya hanya mencoba membaca pemahaman dua paslon capres-cawapres Pemilu 2019 dengan pemahaman saya yang sempit. Dan inilah analisis yang bisa saya sampaikan kepada anda sekalian pembaca Warung Kata yang budiman. Jangan lupa nyoblos April nanti ya!

Salam damai.
Penjaga Warung Kata

Minggu, 20 Mei 2018

'Menerima' Adalah Belajar Tingkat Tertinggi

*Dariku untuk Teater Tesa pada pementasan Rumoh Geudong


Nerimo adalah hal yang paling kita butuhkan saat ini, dan sampai saat yang tidak ditentukan


Dalam konteks pertahanan diri, kita selalu berusaha mati-matian dalam membela diri, mempertahankan diri, melindungi diri dari gangguan apapun yang terjadi baik dari dalam maupun dari luar diri. Tetapi, apakah menurutmu “menerima” adalah salah satu materi dalam pertahanan diri? Apakah kau setuju bila justru menerima adalah nilai tertinggi dari pelajaran pertahanan diri? Mari kita bicara.

Begini: aku belajar banyak hal dari karya sastra dan karya seni. Karya sastra karena aku kuliah di Sastra Indonesia, karya seni karena aku bergabung di kelompok teater, kedua komponen yang aku pelajari itu mengantarkanku pada sebuah pelajaran yang paling berharga, yaitu menerima. Menerima bahwa aku, kita, kami semua adalah sama-sama sedang belajar. Termasuk belajar menerima. Dan kau benar, menerima, aku akui adalah pelajaran yang paling sulit, tapi bukan tidak mungkin dilakukan dan bukan tidak mungkin dikuasai.

Sejatinya menerima itu berada di tengah-tengah antara percaya diri dan merendah diri. Menerima berada di tengah-tengah antara sombong dan pengecut. Menerima berada di tengah-tengah antara sadar dan alam bawah sadar. Menerima bersifat netral. Penetralisir paling manjur dan harus kita miliki.

Dalam lingkup keilmiahan, karya sastra dan karya seni yang baik selalu membutuhkan kritik yang baik. Bahkan, konon, karya sastra yang baik selalu beriringan dengan kritik sastra yang baik. Maka dalam pementasan Rumoh Geudong ini kita benar-benar butuh kritik yang baik bukan? Dan kita telah melalui hal itu. Aku rasa, dari yang sudah-sudah, menerima kritik bukanlah hal yang benar-benar mudah bila kita tidak memasukannya dalam konteks belajar atau setidaknya mau belajar.

Dalam kadar menerima kita akan mengetahui seberapa kuat kekuatan kita dalam hal pertahanan diri.

Belajar kepada apapun dan kepada siapapun.


Kamis, 08 Februari 2018

5 Hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Jika Kamu Adalah Mahasiswa Sastra, Versi Warung Kata.





 

1. Beli Buku (terutama karya sastra) Bajakan

Bayangin aja. Butuh berapa cangkir kopi si penulis buat menulis satu paragraf, satu halaman, satu lembar, satu puisi, satu cerpen, satu nove? Butuh berapa kopi? Berapa hayoo? Kecuali kamu beli buku bajakan trus ngasih kopi ke pengarang 5 kodi gitu ya, its okay its okay. No problemo. Itu yang becanda. Yang serius ini:

Menurut data yang saya ambil dari kompasiana.com dalam tulisan berjudul Mengintip Hitung-hitungan Royalti Penulis Buku oleh Abu Fathan. Besaran standar royalti yang diterima dari penerbit adalah 10% (per eksemplar) dari harga buku, sekalipun kebijakan di setiap penerbit itu berbeda-beda. Ada pula penerbit yang memberi 15 %. Dan royalti bersih ini adalah harga jual buku yang sudah dikurangi biaya marketing 55 %.

Royalti ini diberikan secara berkala, umumnya setiap enam bulan sekali. Begitu kata Pak Abu Fathan.
Langsung masuk pada cerita saja ya. Seorang penulis menulis buku seharga Rp 50.000 dan dicetak pertama kali sejumlah 5000 eksemplar. Kalau royaltinya 10%, maka upah yang diterima penulis adalah Rp. 50.000 x 10 %(besaran royalti) = Rp. 5.000 per eksemplar. Lalu dikalikan 5000 eksemplar (jumlah cetak) maka hasilnya adalah Rp. 25.000.000. dengan catatan semua eksemplar terjual habis. Syukur-syukur bisa cetak ulang lagi. Tapi menunggu waktu cetak ulang itu tidaklah sebentar. Bisa saja di tahun berikutnya baru bisa cetak ulang. Maka bisa dikalkulasikan penulis hanya mendapat kurang lebih Rp. 2.000.000 per bulan. Gimana, pusing itung-itungannya. Gini aja nih simpelnya.

Dari royalti sebesar 10%, ambilah contoh kita membeli novel seharga Rp. 50.000 Maka keuntungan yang di dapet dari seorang penulis hanyalah Rp. 5.000, Goceng bro goceng! Makan di angkringan aja gak kenyang goceng mah. Ya begitu kira-kira perhitungan simpelnya. Bayangin kalau kamu beli buku bajakan. Dapet untung dari mana penulis brow? Lu nulis makalah tanpa copas aja susah kan? Gimana nulis buku?! Dan lu beli bukunya bajakan!

2. Beli Buku (pegangan) Kuliah Asli.

Merdekalah mahasiswa dengan segala argumentasinya, ye kan? Sekarang gini aja deh, buku kuliah atau sebut aja buku pegangan kuliah. Memang sangatlah penting, karena materi-materi kuliah ada di dalamnya. Apalagi ada beberapa dosen mewajibkan untuk memiliki buku pegangan kuliah. Tapi, ada tapinya nih. Dosen juga tidak sering untuk menyuruh mahasiswanya memfoto copy. Jadi ya udah, foto copy aja.

Ya selagi kamu ada rezeki, daripada beli buku kuliah asli, mending beli novel ato cerpen ato essay atau apalah yang menyangkut sastra dan semacamnya. Buku pegangan kuliah mah fc aja, gapapa kok, selagi gak ketahuan sama pengarangnya. Atau mungkin pengarang juga mafhum kita mahasiswa. Wkwkwk.

3. Malas Membaca

Dari sekian banyak (gak juga sih) pengalaman saya menjadi mahasiswa sastra mendengar kata-kata yang pertama kali keluar dari orang setelah mendengar saya kuliah di sastra adalah: “Ouh puisi-puisi gitu ya?”. “Ouh jadi guru ya?” Ya ya ya. Saya akan jadi guru dan saya akan menulis puisi, setidaknya untuk diri saya dan keluarga saya. Diluar itu semua. Sastra erat kaitannya dengan dunia literasi. Sekalipun orang yang masuk sastra tidak ada jaminan menjadi pegiat literasi atau simpelnya, mahasiswa sastra tidak diarahkan menjadi penulis profesional. Objek penelitian sastra pun sangat erat kaitannya dengan dunia bacaan.

Sebenarnya membaca tidak hanya tugas mahasiswa sastra, tapi tugas semua mahasiswa bahkan semua kalangan masyarakat. Tapi mahasiswa sastra seharusnya bisa jadi pelopor gerakan ayo membaca.

Jadi kalo lu ngaku anak sastra dan lu males baca. Ngopi aja ngopi!

4. Pelit Beli Buku

Memang tidak semua orang suka membaca buku, bahkan mahasiswa sastra sekalipun. Apalagi beli ye kan. Tapi sist and brow, saya pribadi, merasa malu jika mengaku mahasiswa sastra tapi tidak memiliki koleksi buku-buku sastra. Atau ya minimal pernah baca lah. Koleksi buku-buku sastra adalah bentuk investasi tersendiri bagi saya, dan merupakan sedikit kebanggaan.
Kita beli kuota internet minimal 50-60 ribu perbulan. Ya seharga lah sama buku. Ayo sisihkan sedikit buat beli buku. Apalagi pas ada diskonan. Waaah “mata bukuan”.

5. Pelit Berbagi Ilmu

Pernah denger cerita dari hadist yang mengatakan ilmu itu tidak akan berkurang jika dibagikan, malah justru bertambah. Berbeda dengan harta, harta dibagikan berkurang. Nah kurang lebih begitu. Ketika kita sudah banyak membaca baik buku ataupun media lainya, sekalipun itu sastra ataupun nonsastra. Tetapi dari membaca, saya yakin, interteks pasti muncul di kepala kita. Sesederhana apapun interteks itu, tuliskan dan bagikan. Sederhana kan? Jangan sampai kita sudah banyak membaca tapi tidak dibagikan. Ilmu kita tidak akan bertambah atau kalau boleh saya meminjam istilah PMII itu “onani intelektual”, yang bisa di artikan pintar sendiri dan gak bagi-bagi. Cukup silver queen lah yang gak rela bagi-bagi.

Tapi bagaimanapun, membangun budaya literasi bukan karena menyoal kita mahasiswa sastra. Bangunlah budaya literasi karena tanggung jawab peradaban, tanggung jawa sosial, dan mahasiswa harus berada di garda terdepan dalam membangun peradaban. MERDEKA! HIDUP MAHASISWA! HIDUP MAHASISWA SASTRA!

Ayolah brow ngopi dulu. Bokep bokep bae!

Minggu, 28 Januari 2018

Iseng ke Lampung



      

Aku memang tidak pernah merencanakan sama sekali liburan semester ini bisa ngelayab sampe ke Lampung. Berawal dari kunjunganku ke Cilegon untuk menjenguk saudara sepupuku yang baru saja melahirkan. Akhirnya ide untuk nyebrang ke Lampung pun datang. Hihihi.
Transportasi yang aku gunakan dari Cilegon ke Pelabuhan Merak adalah angkot (warna merah) dan membayar 10 ribu. Lalu turun di depan pintu pelabuhan untuk pejalan kaki dan para pengantar.Lalu memesan tiket dan masuk ke kapal. Hanya15ribu rupiah tiket kapal feri menuju Bakauheni dan sebaliknya.

Ini sebuah warning yang bersifat saran: jika kau belum pernah naik kapal sama sekali atau sudah pernah tapi sudah lama dan entah apa lupa rasanya, maka bersiap-siaplah menghadapi gliyeng gliyengnya kapal dan angin laut yang bisa saja - sangat bisa - membuatmu mabok tanpa minum alkohol (mabok laut). Bawalah obat pencegah atau pengobat mabok perjalanan. Tetapi dengan rasa senang yang datang karena excited terhadap sebuah pelayaran, bagiku mabok laut hanyalah alasan yang bisa disisihkan untuk tetap bisa menikmati sebuah pelayaran.
Pelayaran yang menyenangkan dan menyuguhkan pemandangan yang penuh sensasi adalah di waktu pagi menjelang terbitnya matahari dan di waktusore menjelang tenggelamnya matahari. Itupun jika cuaca tidak mendung tertutup awan hitam. Kita akan menyaksikan matahari pulang dan berangkat bekerja di penghujung mata memandang dari atas kapal dengan pandangan penuh pesona atau ya biasa aja. Tapi di luar dua waktu itu, pelayaran akan tetap menyenangkan jika kau dan aku berlayar bersama, pfffftt wekawekaweka.

Tujuan ku ke Lampung adalah sebuah perjalanan: menyeberangi lautan, menaiki kapal feri, menempuh jalur lintas Sumatera, mengenal pulau terbesar di Indonesia dan pulau terbesar keenam di dunia (menurut Wikipedia -sudah hiraukan saja bagian ini) dengan bahasanya yang campuran antara Bahasa Jawa dan Bahasa Lampung adapula Bahasa Minang.

Lalu tujuanku yang kedua adalah - ini agak idealis sih - menjadi travel writer. Seorang pelancong yang menyusuri tempat-tempat jauh di penjuru peta dengan biaya paling minimum namun pengalaman paling maksimum. Tentu saja kau harus pergi tanpa meninggalkan niatan merobek-robek dompet hidupmu bukan? Dak rencana perjalanan tampak tidak begitu aku hiraukan selain untuk menempuh jarak menempuh perjalanan. Maka aku tidak berharap mengunjungi tempat-tempat wisata yang disebut banyak orang dan mendapat tagar banyak di instagram: tempat liburan yang disetubuhi banyak pungutan disana-sini. Angkot, Kapal feri, bis, jalanan, potret pantai pinggir jalan (banget), perkampungan kecil di Lampung Selatan: merupakan wisata tersendiri bagiku dan bagi warung ku Warung Kata.

Kamis, 11 Januari 2018

Pengangguran





Oleh: Mahmud Zulfikar

“Kau benar-benar tidak mengerti bagaimana rasanya jadi pengangguran dan ditinggalkan cinta.”

            Hari itu Waryo hendak berangkat kerja dan sedang memanaskan mesin motornya di depan halaman kontrakannya. Ia bekerja di pabrik gula di bilangan daerah Majalengka, Jawa Barat. Bagi lulusan SMP seperti Waryo mendapatkan pekerjaan tidaklah mudah. Karena kebanyakan pabrik hanya mau menerima karyawan lulusan SMA, entah apa alasannya, dia enggan mencari tahu dan kesal terlebih dulu.
            “Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dicari oleh pabrik-pabrik itu?” Dengusnya kesal.
            Sebab ia sudah melamar ke 17 pabrik dan tidak ada satupun pabrik yang mau menerimanya, terlebih dan terutama dan memang hanya lulusan SMA lah kriteria minimal pabrik-pabrik tersebut.
            “Mereka pikir lulusan SMA lebih cakap dalam bekerja setelah 12 tahun menulis ABCDEFGHIJ? Sial!”
            Dari pabrik ban dalam dan luar, ban tubeless, lalu pabrik kaleng, pabrik plastik, bahkan sampai pabrik garmen yang memproduksi pakaian dalam pria dan wanita saja tetap tidak mau menerima Waryo sebagai karyawannya.
            “Coba kau pikirkan! Bahkan untuk pabrik yang membuat sempak dan kutang saja tidak mau menerimaku? Tuhan... setidak berguna apa aku?”
            Sambil terus melanjutkan pekerjaan yang hampir abadinya sebagai tukang ojek pangkalan di pertigaan Cijurug. Pertigaan paling strategis di daerahnya karena kendaraan umum dari dalam dan luar baik kota maupun provinsi keluar masuk melalui pertigaan Cijurug.
            Pernah sekali ia hampir diterima di pabrik kertas.
            “Hampir saja pabrik pembuat packaging itu menerimaku, tapi dia menolakku hanya karena alasan konyol.”
            Ketika Waryo sedang mengantri untuk diwawancarai, ia tiba-tiba kebelet kencing dan sempat menahan-nahannya karena saking gelisah dan gugupnya untuk pertama kali dalam seumur hidupnya ia dipanggil wawancara kerja. Tapi ia tidak kuat menahan urine keluar dari lubang anusnya. Maka ia pun beranjak dari kursinya dan menanyakan dimana toilet berada. Tidak ada yang tahu. Bahkan seluruh peserta wawancara yang hadir pada hari itu. Maka ia keluar ruangan dan bertanya dimana toilet berada kepada satpam yang berjaga – lebih terlihat seperti tukang pukul karena tidak mengenakan seragam.
            “Mohom maaf mas, toilet kantor ini sedang dibangun dan belum jadi, bahkan klosetnya pun belum dikirim dari toko materialnya.” Dengan nada agak ramah tukang pukul itu memberi jawaban. “Bila mas mau berusaha lebih keras lagi, cobalah jalan ke barat, mas akan menemui Masjid Muallim di samping kantor kecamatan, disitu ada toilet lengkap dengan tempat wudhunya.”
            “Ya, ya. Kira-kira seberapa jauh itu?”
            “Kurang lebih 4 KM mas.”
            “Kau pikir aku Cristiano Ronaldo bisa mencapai jarak sejauh itu dengan berlari sementara urine di anusku mendesak-desak?” jawab Waryo dengan sedikit kesal sambil berlalu pergi.
            Maka dengan tidak sabar ia setengah berlari menuju semak-semak di samping parkiran untuk kencing disana.
            Awalnya dia tidak pernah berpikiran bahwa ulahnya kencing di semak-semak parkiran bisa menyebabkan ia gagal menerima pekerjaan dan gagal mengikuti wawancara.
            “Saudara Waryo Mukajon, silahkan masuk ruang interview.” Panggil petugas.
            “Mohon maaf, Mas Waryo tidak kami beri kesempatan mengikuti interview sekaligus tidak kami terima menjadi karyawan di pabrik kami.”
            “Maksudnya?” jawab Waryo bingung.
            “Maksudnya, silahkan pergi dan keluar dari kantor kami, kami sangat meminta maaf.”
            “Maksudnya, apa maksud bapak dengan sama sekali tidak memberi saya kesempatan?”
            “Mas Waryo telah melanggar peraturan calon karyawan pabrik kertas.co dengan kencing di semak-semak parkiran depan kantor. Sekali lagi mohon silahkan tinggalkan ruangan ini.”
            “Hah?” Waryo hanya bisa tercengang.
            Bagaimana bisa dia ditolak dalam kesempatan wawancara kerja hanya karena kencing sembarangan. Akan kubangun 1.000 toilet di daerahmu jika aku sukses dan kaya nanti. Sial! Tentu saja aku tidak akan kencing sembarangan jika saja di kantormu yang memang terlihat baru itu sudah jadi toiletnya. Lalu kau pikir aku harus lari marathon dulu untuk hanya membuang air kencing, mungkin aku sudah mati terlebih dulu sebelum akhirnya bisa membuang air kencing. Atau – masih sangat kesal – memang itu alasan yang paling halus untuk menolakku karena ijazahku hanya sampai SMP? Sialan. Mungkin aku memang harus masuki SMA dulu. Begitu pikirnya kesal.
            “Mungkin di SMA terdapat pelajaran bagaimana cara menahan kencing. Atau juga bagaimana caranya agar tidak kencing sembarangan.” Dengusnya pada dirinya sendiri.
            Sampai pada kesempatan ketika ia narik ojek dan melihat kertas iklan yang tertempel dengan mengenaskan di badan tiang listrik.
            “Pabrik gula batu dan pasir. Ya intinya pabik gula. Membuka lowongan pekerjaan. Minimal lulusan SMP. Segera kirim surat lamaran kerja ke alamat yang tertera. Jangan lupa di kasih map.” Kurang lebih begitu dibacanya.
            Awalnya dia memang tidak percaya, tidak begitu percaya lebih tepatnya. Tapi apa boleh buat, desakan hidup membuat ia akhirnya benar-benar mengirimkan surat lamaran kerjanya lengkap beserta mapnya, seperti yang disyaratkan pada iklan.
            Sampai pada akhirnya ia diterima di pabrik gula batu dan pasir. Bahkan hingga ia akhirnya ditetapkan sebagai karyawan tetap setelah bekerja dengan baik dan bahkan sangat-sangat baik. Tentu saja gengsi dan gaji Waryo pun berubah berikut status karyawannya berubah.
            “Dengan begini, aku tidak perlu lagi malu-malu untuk mengunjungi rumah Warni dan mungkin suatu hari aku akan berani melamarnya.” Ungkap Waryo pada Tejo di pangkalan ojeknya.
            Tentu Waryo sudah meninggalkan profesinya sebagai tukang ojek. Hanya saja dia memang sesekali mampir mengobrol dengan rekan-rekan ojeknya dulu. Bahkan jikalau kerja libur, dia masih saja dimintai tolong untuk menarik ojek.
            “Ya syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Semoga kau beruntung.” Ujar Tejo.
            “Doamu seperti hadiah minuman seribuan Jo. ‘semoga beruntung’ eh ‘coba lagi semoga beruntung’. Sudah waktunya kau mendoakanku ‘kau pasti beruntung’.”
            “Hanya Tuhan yang mampu mengukur keberhasilan suatu doa Yo.”
            “Oke-oke.”
            Sampai datang suatu pagi dimana ia dan ratusan karyawan lainya mengalami PHK. Entah karena pemilik pabrik sedang iseng atau memang karena pabrik sedang melakukan restrukturisasi. Agar menjaga keeksistensian pabrik di dunia pergulaan batu dan pasir. Begitu katanya. Atau entalah, karena Waryo pun tak pusing apa alasan pabriknya memPHKnya, dia lebih pusing karena ia sudah berjanji pada Warni bahwa minggu depan ia akan melamarnya. Lebih tepatnya ia berjanji pada dirinya sendiri untuk pergi melamar Warni setelah gajinya turun minggu depan.
            Kenyataan memang senyata kentut. Dapat dicium dan dirasakan sekaligus begitu menusuk dan menyakitkan dan mengejutkan. Sekalipun ia memperoleh cukup uang dari Uang Pesangon dan Uang Penggantian Hak untuk membeli cincin kawin dan biaya lamarannya pada Warni kekasihnya. Tapi kenyataan lebih rumit dari itu.
            “Kau tahu aku mencintaimu Warni. Dan tidak lama lagi aku akan melamarmu.”begitu ucapnya dalam hati. Karena bagaimanapun ia belum cukup berani menjanjikan apapun pada Warni, sekalipun itu sebagai tanda kepastiannya bahwa ia mencintai Warni.
            “Waryo. Kau sebaiknya tidak perlu lama berbasa-basi jika kau mencintaiku. Datanglah ke rumahku dan lakukan sesuatu. Karena aku harap kau mengerti, ibuku Hj. Saroh tidak suka anak gadisnya memiliki hubungan yang tidak jelas dengan laki-laki manapun, bahkan ia melarangku.” Begitu tulis Warni pada surat yang ia kirim tepat diterima di pagi itu, di pagi yang sama ketika Waryo menerima kabar bahwa ia di PHK.
            Dengan sedikit tergesa-gesa ia hendak membalas surat Warni. Bahkan dia sempat berpikiran untuk datang ke rumahnya langsung dan menjelaskan apa yang terjadi langsung pada Warni yang dicintainya. Tapi ia tidak cukup berpikir sekali dua kali tiga kali bahkan lima kali sekalipun. Ia harus berpikir hingga puluhan kali dan akhirnya memutuskan untuk datang langsung ke rumahnya. Tentu saja, dengan surat balasan di sakunya. Jaga-jaga andai saja tidak bisa berkata banyak untuk menjelaskan.
            “Nak Waryo. Kau tahu Warni adalah anak gadisku yang pertama, aku punya 3 anak gadis setelahnya. Kau pasti mengerti bahwa Warni pastilah jadi panutan bagi adek-adeknya. Jadi saya mohon maaf sekali lagi jika aku harus menolak lamaranmu pada Warni anak sulungku. Karena pasti kau mengerti, aku tidak ingin Warni dilihat adik-adiknya dengan dia mau dinikahi oleh pria yang tidak mempunyai pekerjaan.” Begitu balas Hj. Saroh ibu Warni. Ketika Waryo mengatakan hendak melamar anak sulungnya.
            “Baiklah.”
            Begitu balas Waryo. Hanya itu. karena hanya itu jawaban yang terbaik, yang ia mampu dan yang ia punya untuk menjawab. Tanpa salam dan pamit, ia berlalu pergi meninggalkan rumah Hj. Saroh.
            Sebenarnya Waryo ingin menjawab banyak pada Hj. Saroh atas penolakan lamarannya. Seperti: aku punya cukup uang untuk membuat usaha sendiri semacam warung kopi misalnya. Atau: aku punya cukup uang untuk membeli gerobak cilok dan berjualan di sekolah-sekolah. Atau – yang terakhir ini muncul karena ia terlalu emosi atas kepenatannya – aku punya cukup uang untuk membakar rumahmu Hj. Saroh. Begitu kesal Waryo dalam hatinya. Karena bagaimanapun ia sungguh kesal dan sangat kecewa dan sangat sakit hati mendengar jawaban Hj. Saroh yang terdengar terlalu materialistik. Tidakkah kau seharusnya memberiku kesempatan seperti: berusahalah dengan lebih giat sampai kau mendapat pekerjaan, lalu kau bisa melamar anak sulungku. Dan sungguh, sungguh kau tidak perlu menambahkan kata maaf jika kau menjawab seperti itu wahai Ibu Hajah Saroh mantan calon menantuku.
            Pikiran itu hampir seharian, semingguan, sebulanan, bahkan setahunan terus mengganggu pikiran Waryo.
            “Sekarang kau sudah benar-benar mengerti, bagaimana rasanya jadi pengangguran dan ditinggalkan cinta?”

WARYO, 10 JAN 2018.